Pages

Jumat, 20 April 2012

Strategi Jitu dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik di Dunia Pendidikan Indonesia

Apakah masih bisa mambangun kejujuran akademik di negara kita?

Jawabanya bisa.

KEJUJURAN adalah kosakata yang mudah diucapkan, tetapi sulit untuk diaplikasikan. Begitulah ungkapan yang pas untuk menanggapi ulah Guru Besar (profesor) di Bandung yang ketahuan berbuat memalukan alias menjiplak (suara merdeka). Untung saja ya bukan Guru Besar dari Surabaya. Tetapi Bisa saja sih ada, mungkin saja dia lagi beruntung tidak ketahuan.

Hayoo sapa yang bohong biar hidungnya panjang kayak pinokio.

Lain halnya masalah di atas, sebetulnya masih banyak sih akademisi yang nekat berbuat sedemikian itu. Mulai dari pembuatan makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan artikel-artikel ilmiah. Yang lebih hebohnya lagi sebuah instasi pendidikan yang melakukan perbuatan curang dalam UNAS demi mengangkat nama baik sekolah. Contohnya guru membantu dalam mengerjakan yang jawabanya disebarkan kepada siswa-siswanya, supaya nilai dari anak-anaknya baik, sehingga sekolah mendapat predikat sekolah dengan lulus semua. Namun masih sedikit perbuatan itu terkuak lho... oleh media dan tertutup rapat di balik tembok tebal kebohongan. Ya... semoga kita bukan termasuk ya... Amin.

Terus melihat hat tersebut, sempat saya berfikir mau dibawah kemana negara kita ini nantinya? Khususnya generasi penerus bangsa. Sebab drama kebohongan ternyata tak hanya nyaring di dunia politik saja, tetapi juga di alam akademik, sungguh disayangkan bukan. Betapa kejujuran ibarat barang mewah nan mahal. Praktis, tak semua orang, termasuk kaum intelektual, sanggup menjalankan. Gejala apakah itu? Yang jelas bukan kabar gembira, melainkan tanda kemerosotan moral bangsa kita makin nyata dan saya rasa sudah lengkap kebohongan yang melanda bangsa ini.

Lantas, sudah hilangkah bibit kejujuran bangsa ini? Dan bisakah kalian memperbaiki moral negara kita ini? Tentu pertanyaan itu tak mudah dijawab. Tetapi sebagai seorang guru, kita harus berani menantang untuk menjawab bahwa kita bisa. Sedikit cerita diatas untuk menggugah hati kita, supaya kita selalu peduli untuk bangsa khusunya bidang akademik. Ok bro and sis... kita sharing bareng-bareng yuk untuk membahas “peran guru dalam membangun kejujuran akademik di negara kita ini.”

Kejujuran akademik adalah perilaku benar dalam berkata dan melakukan segala pekerjaan yang berkaitan dengan kegiatan akademisi. Ada tiga urgensi kejujuran akademik, yaitu: 1) aspirasi moral dan agama, 2) menuntut kepuasan dan kenyamanan hati nurani, 3) memelihara sistem kehidupan manusia dan alam semesta. Ketiga landasan ini lah yang menjadi fondasi seseorang untuk berperilaku jujur, khususnya di dalam bidang akademik.

Sedangkan Masalah kejujuran akademik adalah masalah kesadaran moral. Oleh karena itu, sanksi utama pelanggaran kejujuran akademik adalah hukuman moral. Namun, akibat pelanggaran kejujuran akademik tersebut telah menyentuh hukum pidana, maka suatu komunitas pendidikan perlu merumuskan suatu indikator pelanggaran kejujuran akademik dan sanksi-sanksinya di dalam sebuah peraturan yang tertulis jelas.

Menurut saya membangun kejujuran akademik tidak dapat dilakukan dengan memberikan nasehat saja, melainkan dengan pembiasaan dan latihan-latihan. Contohnya kecilnya dengan mengadakan kantin kejujuran dan tempat penampungan barang temuan.

Contoh kantin kejujuran

Perlu diketahui ketidakjujuran akademik dapat dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya adalah:

1) Berfikir sempit

Dalam pandangan filosofis, ketika pikiran menjadi sempit, maka cakrawala pikirannya akan tertutup untuk mengetahui bahaya yang mungkin diakibatkan perbuatannya sendiri. Sehingga, orang yang memiliki pikiran sempit akan berbuat sesuatu dengan tanpa pertimbangan apapun, kecuali aspek kepentingannya.

2) Budaya cinta dunia yang berlebihan

Budaya cinta dunia berlebihan sebagai faktor yang telah dinyatakan Allah SWT. di dalam surah Al-An'am/6: 150. Aplikasinya tidak jarang kita saksikan bahwa faktor material dan kepentingan personal atau kelompok telah menutup pintu kesadaran seseorang dari berbuat jujur. Audubillahmindalliq.

3) Kebiasaan buruk

Kebiasaan-kebiasaan buruk masyarakat Indonesia yang dapat mengikis kejujuran akademik, antara lain kebiasaan meremehkan waktu, suka menunda pekerjaan, tidak memiliki rencana atau target kehidupan yang jelas, kebiasaan pesimis terhadap diri sendiri, canggung menerima perbedaan, suka mengeluh, konsumtif, suka meminta dan tidak biasa berfikir kreatif, mau gampangnya saja dan kurang bisa mempelajari kesalahan. Kebiasaan-kebiasaan buruk ini seharusnya menjadi perhatian para pemegang kebijakan pendidikan dalam mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kurikulum pendidikan nasional dan lingkungan masing-masing sekolah.

4) Stres menghadapi beban studi yang over loud (terlalu banyak)

Stress akibat dari muatan beban studi yang melebihi kemampuan peserta didik. Dalam teori psikologi belajar, stress yang menimpa peserta didik akan berdampak pada penurunan daya serap otak, dan ketika kondisi otak sudah lelah karena memenuhi tuntutan tugas studi yang terlalu berat maka peserta didik pun tidak bisa berpikir kreatif, sehingga ia pun tergoda untuk mencari alternatif yang lebih mudah, yaitu melalui praktik plagiasi alias jibplak, ngerpek dan sebagainya. Disamping itu, materi yang over loud juga dapat mengubah fungsi materi pelajaran dari fungsi penuntun perkembangan menjadi fungsi penuntut peserta didik untuk menghafal dan mengerjakan berbagai hal yang telah di program (sebagaimana layaknya sebuah robot). Nah.... Untuk mengatasi masalah ini antara lain dapat kita lakukan dengan mengidentifikasi minat dan bakat kecerdasan peserta didik dan menyusun materi pelajaran sesuai dengan keinginan peserta didik. Content kurikulum tersebut dapat kita tiru dari kurikulum pendidikan di luar negeri dan itu ada loh di negara kita, salah satunya di SEKOLAH KREATIF SD Muhammadiyah 16 Surabaya dengan menerapkan pembelajaran Fun Learning, yaitu pembelajaran yang selalu menyesuaikan minat, bakat, situasi dan kondisi peserta didik dan selalu menggunakan strategi pembelajaran yang menyenangkan, langsung pada lapangan/ nara sumber, mengintergrasikan pendidikan karaktek dan selalu kreatif.

5) Salah menentukan tauladan yang baik

Kegagalan seseorang dalam menentukan tauladan yang baik. Dewasa ini, sudah kita merasakan krisis teladan baik bagi bangsa kita ini. Salah satu contoh krisis ini adalah bahwa orang tua, dan pendidik sudah tidak mampu memberikan suri tauladan yang baik bagi anak-anaknya ataupun peserta didiknya. Akibatnya, peserta didik pun mengambil teladan dari public figure yang menarik perhatiannya, sedangkan yang diidolakannya itu belum tentu berperilaku baik.

Setelah memaparkan beberapa faktor penyebab pelanggaran kejujuran akademik di atas, maka penulis mencoba memberikan usulan usaha membangun kejujuran akademik yang lebih pasnya strategi membangun kejujuran akademi, yaitu:

1) Pemahaman makna dari kejujuran

Proses pembelajaran yang dapat memberikan pemahaman makna kejujuran setidaknya mengandung : a) penyampaian indikator kejujuran dengan jelas, b) mengajak peserta didik untuk menghayati makna kejujuran dan memikirkan mengapa ia harus berperilaku jujur, c) melakukan evaluasi dan refleksi kejujuran akademik. Melalui pembelajaran semacam ini diharapkan peseta didik akan menjadi orang yang selalu berpikir setiap melakukan. Cara kasarnya siswa bukan hanya mendapatkan teori saja, melainkan aplikasinya.

2) Menciptakan situasi yang baik terhadap tumbuhnya sikap jujur

Teknik untuk menciptakan situasi yang baik adalah dengan menyediakan sarana pendukung tumbuhnya sikap jujur, seperti; kantin kejujuran, tempat penampung barang temuan, dan memberikan riward kepada setiap orang yang telah beperilaku jujur dalam pengabdiannya.

3) Keteladanan baik

Tahu tidak anak mengerti sifat jujur dan berbohong adalah hasil peniruan dari apa yang dia lihat dan ia mengerti. Oleh karena itu, suatu komunitas pengelola pendidikan perlu memberikan pelayanan yang bebas dari kebohongan dan menjunjung tinggi azas kejujuran. Jadi sangat perlu banget orang tua dan seorang pendidik mendampingi dan memberi pengertian yang dalam bagi anak atau peserta didik, sehingga pada dewasa nanti anak menjadi anak yang benar-benar tahu makna dari kejujuran.

4) Membangun sikap terbuka

Suatu komunitas pendidikan semestinya membangun budaya keterbukaan di lembaga pendidikannya. Baik ia dalam hal laporan pertanggung jawaban anggaran kegiatan, teknik pelayanan sekolah, peraturan-peraturan sekolah, serta jalinan komunikasi antara pendidik, peserta didik, dan tenaga pendidik. Dengan membangun sikap keterbukaan ini diharapkan peserta didik merasa bahwa ia tidak dapat berbuat semaunya sendiri karena keberadaannya telah diikat oleh berbagai peraturan-peraturan tertentu.

5) Memberikan sanksi sampai efek jerah

Sanksi atau hukuman pelanggaran kejujuran akademik harus dicantumkan dengan jelas dan rinci di dalam sebuah peraturan instasi. Dewasa ini, pelaku pelanggaran mendapatkan sanksi atau hukuman yang berlebihan, tetapi tidak memberikan pengaruh besar bagi pelaku pelanggaran kejujuran alias ora kapok. Oleh karena itu, suatu instasi pendidikan harus pandai menciptakan aturan bagi pelaku pelanggaran sampai efek jerah dan lebih penting menjadi lebih tahu makna dari kejujuran. Hal ini dapat dilakukan dengan contoh-contoh, penegasan, pemahaman, pembelajaran yang bermakna.

6) Selalu berusaha untuk ingat pada sang kholiq

Tidak ada kata bahwa seseorang akan melakukan tindak kriminal jika dia ingat sang kholiq, melainkan orang akan melakukan tindak kriminal karena dia jauh dari sang kholiq. Itu yang paling terpenting dari hidup untuk menjadi perisai menghindari sifat-sifat tercela salah satunya adalah kebohongan.

Ok bro n sis demikian artikel ini saya buat dan artikel ini saya buat berdasarkan pemikiran penulis, sumber-sumber dan posting dari artikel teman-teman yang masuk akal menurut saya. Dan saya mohon maaf jika ada kesamaan bahasa dan logika, tetapi sebenrnya itu adalah pembelajaran untuk memperbaiki kita semua.

Harapan terakhir saya sebagai penulis adalah semoga melalui artikel ini memberikan motivasi bagi kita semua khusunya pembaca dan guru untuk tidak pesimis dalam menjawab “apakah masih bisa membangun budaya kejujuran akademik di negara kita?” dan semua guru bisa menjawab BISA.