Pages

Senin, 30 Agustus 2010

Nilai Ulangan Statistik XI IPS


Lihat di gambar di bawah ini, klik 2x agar kelihatan Besar!
Tugas








Tugas Bagi Yang Tidak Tuntas!
Silahkan di Download di Sini
Di Kumpulkan Paling Lambat hari Sabtu, 4 September 2010
Bisa diketik atau tulis tangan,
Bagi yang di ketik Silahkan Kirim ke Email: suta_2008@yahoo.com

Minggu, 29 Agustus 2010

Nilai Ulangan Statistik XI IPA


Lihat di gambar di bawah ini, klik 2x agar kelihatan Besar!
Tugas
















Tugas Bagi Yang Tidak Tuntas!
Silahkan di Download di Sini
Di Kumpulkan Paling Lambat hari Sabtu, 4 September 2010
Bisa diketik atau tulis tangan,
Bagi yang di ketik Silahkan Kirim ke Email: suta_2008@yahoo.com

Rabu, 25 Agustus 2010

Mathematics and Science: Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN)

Mathematics and Science: Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN)

Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN)

Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN ), dimiliki oleh setiap pengajar di perguruan tinggi di seluruh Indonesia.Bagi pengajar yang belum mengetahui NIDN-nya berapa, bisa mencarinya pada website ini : evaluasi.or.id khususnya halaman pencarian data (http://evaluasi.or.id/profile-nidn.php) dosen berdasarkan nama, NIDN, nama institusi atau lewat kriteria lain.

Misalnya kita ingin mencari NIDN untuk dosen bernama Muhtadi A. Temenggung, caranya buka halaman (http://evaluasi.or.id/profile-nidn.php) selanjutnya isi salah satu bagian kolom pengisian data dosen misal data yang kita miliki nama dosen, maka kita isi kolom nama dosen dengan nama Muhtadi Arsyad Temenggung. Maka muncul data Muhtadi Arsyad Temenggung yang kita cari.

Di website ini anda bisa juga mencari dan menemukan detail sebuah perguruan tinggi lengkap dengan berbagai data-datanya pada bagian pencarian data perguruan tingginya. Oke, selamat mencoba.

Sumber : http://republikbm.blogspot.com/

Rabu, 18 Agustus 2010

Peringatan HUT RI Ke 65 SMA Tunas Luhur Paiton

HUT RI SMA TUNAS LUHUR

Peringatan Hari kemerdekaan Indonesia yang ke 65 yang di laksanakan SMA Tunas luhur paiton tidak hanya diselenggarakan lomba-lomba dan partisipasi yang dilakukan di sekolah saja, tetapi lomba - lomba tingkat kecamatan dan kabupatan, dengan beberapa bukti yang sangat membangkan yaitu Juara II Gerak jalan tingkat Kecamatan dan Pasukan terbaik upacara bendera di lapangan paiton Probolinggo, selain menang dalam lomba tersebut beberapa partisipasi siswa-siswi juga mengikuti sebagai pengibar bendera baik tingkatan kecamatan dan kabupaten, dan sungguh membangkan juga peserta yang dari SMA Tunas luhur sebagai Danton (Komendan Pleton) pengibar bendera sang Merah putih di kebupaten banyuwangi yang dilaksanakan di Lapangan Alun-alun Kraksaan 17 Agustus 2010.

Rabu, 04 Agustus 2010

Menciptakan Lingkungan Pendidikan yang nyaman


Menurut teori empirisisme dikatakan bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Jika lingkungannya baik maka mereka akan menjadi baik dan jika lingkungannya jelek maka mereka akan menjadi jelek. Meskipun tidak semua manusia dapat dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi disepakati oleh semua ahli bahwa lingkungan berpengaruh terhadap perilaku manusia.
Rasulullah saw juga bersabda,

"Setiap Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka tergantung kepada kedua orang tuanya, akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas menegaskan bahwa pada dasarnya manusia itu baik, tetapi lingkungan berpengaruh kepada manusia, akan menjadikannya semakin baik atau menjadi buruk. Jika lingkungan manusia baik, maka manusia akan menjadi baik dan jika lingkungannya buruk maka mereka juga akan hidup dalam keadaan buruk.

Keadaan seperti ini juga berlaku bagi lingkungan kerja kita. Alangkah nikmatnya kita bekerja jika lingkungan kerja kita terasa nyaman dan menyenangkan. Lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan, menjadikan kita betah dalam bekerja dan bersemangat dalam menjalankan tugas. Akan tetapi jika lingkungan tempat bekerja kita keruh, penuh dengan permusuhan, saling menjatuhkan, kurang nyaman dan sebagainya, bisa menjadikan semangat kerja kita melemah dan enggan menjalankan tugas.
Menurut saya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan nyaman di tempat kerja kita di antaranya adalah:

a. Tumbuhkan rasa saling cinta. Saya sepakat dengan teori yang mengatakan bahwa cinta merupakan sumber segala kebaikan. Karena cinta kita ada dan karena cinta kita tiada. Islam mengajarkan bahwa “seorang muslim adalah orang yang mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” Karena pentingnya cinta ini, Rasulullah menjadikan cinta sesame muslim sebagai syarat seseorang bias disebut mukmin dan muslim.
Begitu juga di lingkungan kerja kita. Setiap anggota organisasi di lingkungan kerja harus menyadari bahwa mereka bersaudara dan harus saling mencintai. Ibarat satu tubuh yang utuh, jika ada satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lainnya ikut merasa sakit. Sebaliknya, jika satu anggota tubuh merasa senang, maka anggota tubuh yang lain juga ikut merasakan kesenangan. Jika rasa cinta ini sudah tumbuh, baik cinta kepada lembaga maupun cinta kepada sesame kolega dan rekan kerja, maka akan tumbuh gairah untuk bekerja secara sungguh-sungguh.

b. Ciptakan kebersamaan. Pada dasarnya, organisasi suatu lembaga pendidikan, tidak mungkin bias berjalan jika semua anggotanya bekerja sendiri-sendiri, karena mereka adalah satu tim yang memiliki satu tujuan, yaitu mencapai visi dan misi lembaga pendidikan tersebut. Ibarat sebuah kendaraan, mereka adalah para onderdil yang menempati posisi-posisi tertentu. Ada yang ditempatkan di daerah yang panas, seperti mesin dan kenalpot yang pekerjaannya berat dan panas. Ada yang Cuma menjadi asesoris supaya terlihat keren, seperti bodi kendaraan. Ada pula yang berada di tempat yang nyaman dan diduduki oleh cewek-cewek cantik, yaitu jok sepeda. Meskipun mereka menempati tempat yang berbeda-beda, tetapi tujuan mereka sama, yaitu menjadikan perjalanan enak dan nyaman sehingga sampai kepada tujuan.

Begitu juga dengan kebersamaan dalam melaksanakan tugas organisasi di lembaga pendidikan. Setiap orang dalam organisasi harus bias bekerjasama dengan yang lain dalam mencapai tujuan organisasi, baiak dia berada di lahan yang kering maupun basah. Memang harus ada di antara mereka yang bertempat di lahan pekerjaan yang gampang dan basah, tetapi ada juga di antara mereka yang berada di lahan yang susah dan kering. Karena itu, pimpinan di lembaga pendidikan harus bias membuat kebijaksanaan agar terjadi keseimbangan di antara mereka, baik dengan meningkatkan kesejahteraan maupun rolling jabatan.

c. Hargailah Jerih Payah bawahan: Setiap orang pasti ingin dihargai hasil kerja dan jerih payahnya. Penghargaan terhadap hasil karya seorang pegawai, dapat meningkatkan kinerjanya. Penghargaan bias dilakukan dengan dua hal, yaitu materiil dan non materiil. Penghagaan secara materiil bias dilakukan dengan cara memberikan “reward” berupa barang atau uang, kepada orang-orang yang berprestasi di lingkungan kerja. Jika penghargaan yang berupa barang atau uang tidak mungkin diberikan, maka penghargaan bias juga diberikan melalui ucapan yang baik atau dukungan moril. Misalnya, pimpinan mengatakan kepada bawahannya dengan kata-kata “bagus, sip, kamu memang hebat, teruskan” dan sebagainya. Sikap positif seperti ini, dengan sendirinya dapat meningkatkan semangat dan kinerja pegawai meskipun mereka tidak diberi penghargaan uang atau barang. Tetapi alangkah baiknya jika kedua jenis penghargaan itu bias diberikan secara bersama-sama.

d. Hindari perselisihan: Salah satu factor yang dapat memperkeruh suasana kerja sehingga menjadi linkungan kerja yang tidak sehat adalah adanya perselisihan di antara rekan kerja. Memang tidak mungkin adanya perbedaan pendapat di antara teman-teman organisasi ditiadakan, karena setiap orang memiliki pendapat masing-masing yang bias jadi berbeda dengan teman-teman yang lain. Tetapi masalahnya adalah bagaimana caranya mengeliminir perbedaan dan menghindari perselisihan. Salah satu caranya adalah pimpinan organisasi harus sering membuat forum-forum musyawarah untuk membicarakan berbagai macam problem yang muncul di lingkungan organisasi.

e. Ciptakan komunikasi yang baik: salah satu factor yang dapat mengantarkan seseorang berhasil dalam bekerja dan berkarir adalah kemampuannya dalam berkomunikasi. Komunikasi yang baik diawali dengan perkataan yang baik, sopan dan tidak menyakiti orang lain. Setiap pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain, harus diucapkan dengan kata-kata yang pas dan enak, sehingga tidak menyinggung perasaan mereka. Sesuatu yang baik, jika disampaikan dengan cara yang tidak baik, maka akibatnya akan tidak baik. Sebaliknya, sesuatu yang sebenarnya menyakitkan, tetapi disampaikan dengan cara yang baik, maka akan berakibat baik. Karena itu, Islam mengajarkan beberapa cara dalam berkomunikasi, yaitu dengan kata-kata seperti: qaulan karima (kata-kata yang baik), qoulan sadida (kata-kata yang benar) dan sebagainya.

f. Tingkatkan rasa saling percaya kepada orang lain: factor lain yang dapat menjamin terciptanya lingkungan kerja yang baik adalah adanya rasa saling percaya kepada sesame teman dalam organisasi. Setelah job diskripsi disampaikan, maka mereka diberi kepercayaan penuh untuk melaksanakan tugas-tugas mereka agar tetap berjalan dengan baik. Meskipun demikian, para pimpinan harus tetap mengontrol perkembangan pekerjaan yang telah dipercayakan kepada bawahan. Tidak adanya saling percaya kepada rekan kerja, bawahan atau pimpinan, dapat melemahkan kinerja seseorang. Sebaliknya, jika seseorang telah dipercaya dan dia bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan, maka dengan sendirinya dia akan meningkat kinerjanya Karen akepercayaan yang telah diamanatkan kepadanya.

g. Hindari sikap egois: sifat egois atau ingin menang sendiri termasuk salah satu penyakit yang sering muncul dalam sebuah organisasi kerja di lingkungan apapun berada. Egoism yang berlebihan bias mengakibatkan adanya benturan dengan sesame teman di dalam organisasi. Sebenarnya, sifat egoism ini tidak seluruhnya buruk, karena dengan egoism seseorang menjadi lebih tegas dan berpendirian. Tetapi jika sifat egoism itu berbenturan dengan kepentingan orang lain, akan berakibat negative, apalagi jika ego kita tersebut kita paksakan kepada orang lain. Karena itu, situasi dan kondisi yang ada, harus tetap menjadi pertimbangan dalam menetapkan suatu keputusan, bukan hanya didasarkan pada egoism jabatan, pimpinan dan sebagainya. Bila masing-masing anggota organisasi dapat menyingkirkan sifat egoisnya, maka lingkungan kerja kita akan menjadi lebih baik dan nyaman, sehingga suasana kerja menjadi enak dan bersemangat.


h. Berbicaralah jika ada masalah: salah satu hal yang menjadikan komunikasi terhambat antar teman dan kolega di lingkungan kerja kita adalah karena mereka menyimpan masalah mereka sendiri-sendiri dan tidak dibicarakan secara baik dan terang-terangan. Jika masalah itu disimpan dan terus menumpuk, maka lama kelamaan akan meledak jika telah sampai pada titik kulminasinya. Untuk menghindari ledakan yang besar, maka harus dilakukan komunikasi yang jelas antar sesame anggota organisasi, sehingga setiap permasalahan yang muncul bias tertangani dengan segera sejak pertama kali muncul.

Itulah beberapa hal yang menurut saya perlu dilakukan dalam rangka menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan baik di lembaga pendidikan yang sedang kita kelola. Semoga beberapa pokok pikiran yang saya sampaikan tentang upaya penciptaan lingkungan kerja kita nyaman di atas dapat memberikan sedikit masukan bagi para pembaca, sehingga bias kita terapkan di lingkungan kerja kita masing-masing agar kita pun bias bekerja dengan baik, tenang dan bersemangat. Wallahu a’lam bishawab.

Selasa, 03 Agustus 2010

Tips Sederhana Penulisan Artikel Nonfiksi

Bagi saya pribadi, menulis artikel nonfiksi justru lebih mudah ketimbang fiksi (cerpen, novel, dst). Entah kenapa, saya sendiri tidak tahu. Tapi walau begitu, saya ingin menjadi penulis fiksi dan nonfiksi sekaligus, karena keduanya punya keunggulan masing-masing.

Untuk artikel nonfiksi, menurut saya, kiat dasarnya cukup sederhana. Kita hanya membutuhkan "bahan dasar" sebagai berikut:
1. Ide
2. Berpikir sistematis
3. Data (ini cukup relatif, karena ada juga artikel yang bisa ditulis tanpa harus mencari data)
4. Fokus pada masalah. Jangan suka melebarkan topik ke mana-mana.
5. Satu alinea = satu ide.
Jika kelima poin ini sudah kita miliki, maka Insya Allah, menulis nonfiksi bisa menjadi pekerjaan yang sangat mudah.

Untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari contoh sederhana ini.
1. Ide
Ide itu ada di mana-mana. Kali ini, kita mengambil contoh ide yang sederhana saja, yakni: "saya ingin membaca buku sebanyak-banyaknya, tapi saya tidak punya waktu dan tidak punya uang untuk membeli buku yang banyak."

Nah, ini adalah ide yang cukup bagus dan bisa kita angkat menjadi sebuah tulisan. Di dalam ide ini terdapat sebuah masalah yang dapat kita kembangkan nantinya.

2. Berpikir sistematis
Setelah idenya ketemu, saatnya kita berpikir sistematis. Menurut saya, berpikir sistematis ini penting sekali. Salah satu kegagalan para penulis pemula adalah: mereka belum terbiasa berpikir secara sistematis. Akibatnya, mereka punya ide, tapi bingung harus mulai dari mana, bagaimaan cara mengembangkannya, dan seterusnya. Karena itu, kalau kita ingin jadi seorang penulis nonfiksi yang berhasil, cobalah mulai berlatih berpikir sistematis. Begitu ada ide, kita analisis dia secara runut, poin per poin, langkah demi langkah.

Dari contoh di atas, mari kita coba mengembangkannya berdasarkan pemikiran yang sistematis:
1. Saya berpendapat bahwa membaca itu sangat penting. Karena itu, saya harus membaca buku sebanyak-banyaknya. Tapi saya punya kendala nih.
2. Kendala #01: Saya tak punya waktu yang banyak. Saya kan sibuk, banyak kerjaan, dst...
3. Kendala #02: Uang saya terbatas, sehingga saya tidak bisa membeli buku yang banyak.
4. Alternatif pemecahan masalah:
1. Pinjam di perpustakaan.
2. Pinjam buku ke teman. Perluas pergaulan sehingga makin banyak teman yang bisa meminjamkan buku.
3. Membaca ketika dalam perjalanan.
4. Membaca di sela-sela tugas kantor.
5. Sering-sering browsing di internet.
6. Dan seterusnya.
5. Pembahasan terhadap "alternatif pemecahan masalah":
1. Tentang pinjam di perpustakaan: Wah, tidak bisa! Saya juga tak punya waktu untuk minjam ke perpustakaan. Lagipula, saya seringkali belum membaca bukunya, padahal sudah saatnya dikembalikan lagi.
2. Tentang pinjam ke teman: wah, teman saya sedikit. Saya kan orangnya kuper.
3. Dan seterusnya...
6. Pemecahan masalah secara menyeluruh.
7. Kesimpulan

Nah, dari sistem berpikir sistematis tersebut, kita sudah menemukan KERANGKA KARANGAN. Ya, kerangka karangan ini sangat penting, karena dari sini kita bisa mengembangkan tulisan. Kerangka tulisan ini bisa kita tulis di kertas, atau cukup disimpan di kepala saja. Terserah kita memilih yang mana, tergantung kebiasaan dan kemampuan masing-masing.

3. Data
Alangkah bagusnya jika tulisan ini kita lengkapi dengan data pendukung. Misalnya: berapa koleksi buku yang telah saya miliki, berapa rata-rata harga buku. Dari total penghasilan saya, berapa rupiah yang dapat saya sisihkan untuk membeli buku. Dan seterusnya. Data ini akan membuat tulisan kita lebih "kaya".

4. Fokus. Jangan melebarkan topik
Nah, ini adalah masalah yang seringkali tidak kita sadari ketika menulis. Sebab, kita merasa bahwa apa yang kita tulis masih berhubungan dengan tema utamanya, padahal sebenarnya tidak terlalu berhubungan, dan tidak perlu dibahas.

Misalnya begini:
Ketika menulis tentang ide di atas (kendala saya dalam membaca buku), kita tanpa sadar membahas tentang "gerakan gemar membaca yang dicanangkan pemerintah." Kita uraikan tema ini panjang lebar, ditambah berbagai data penunjang.

Hm, kalau tema ini dibahas sekilas saja, mungkin tidak terlalu masalah, karena justru bisa menjadi penguat argumen kita bahwa membaca itu memang sangat penting. Dan memang, tema "gerakan gemar membaca" ini masih berkaitan erat dengan ide yang sedang kita tulis. Masalahnya adalah, jika kita mulai membahas tema tambahan ini secara panjang lebar, tulisan kita menjadi tidak fokus lagi. Di dalamnya sudah ada dua tema besar yang sama-sama kuat. Dan pembaca nantinya akan bingung, "si penulis ini sebenarnya sedang membahas apa, sih?"

5. Satu ide dalam satu alinea/paragraf
Ini sebenarnya sudah kita ketahui bersama, karena sudah diajarkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia sejak SD. Tapi mungkin kita sudah lupa atau kurang membiasakan diri.

Untuk jadi penulis yang baik, menaati asas "satu ide satu alinea" itu sangat penting, dan sangat membantu kita untuk bisa fokus pada ide utama tulisan, untuk membuat tulisan yang sistematis. Kalau asas ini kita langgar, bisa saja idenya berloncatan dari sana ke mari. Ide A sudah dibahas di alinea 1, eh.. dibahas lagi di alinea 7. Ide B dibahas bersama ide A di alinea 1, lalu ide B muncul lagi di alinea 9. Demikian seterusnya. Kan jadi mumet membacanya!

Untuk membuat tulisan yang menaati rumus "satu alinea = satu ide", sebenarnya sangat mudah, dan juga sudah kita dapatkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia ketika SD dulu. Caranya: Buatlah satu kalimat sebagai kalimat pokok. Lalu buat kalimat-kalimat lainnya sebagai penjelasan atau pengembangan dari kalimat pokok ini.

Contoh:
Membaca buku adalah pekerjaan wajib bagi setiap penulis. Tanpa membaca, tulisan mereka akan kering, tidak kaya karena miskin referensi. Semakin banyak membaca buku, maka semakin banyak bahan atau ide yang didapatkan oleh si penulis.

Kalimat pokok pada alinea di atas adalah "Membaca buku adalah pekerjaan wajib bagi setiap penulis." Selebihnya hanyalah penjelasan atau pengembangannya.


Berikut adalah contoh alinea yang jelek karena di dalamnya terdapat lebih dari satu ide.

Membaca buku adalah pekerjaan wajib bagi setiap penulis. Selain itu, penulis juga harus pintar-pintar mencari inspirasi. Inspirasi itu datangnya bisa dari mana saja. Dengan membaca, penulis akan mendapat inspirasi yang banyak. Kalau inspirasi Anda sedang macet, cobalah berdiskusi dengan teman-teman Anda.

Coba Anda perhatikan. Alinea ini sangat tidak fokus pada satu ide, dan terkesan seperti ringkasan deri sebuah tulisan yang panjang. Hindarilah teknik penulisan yang seperti itu.

* * *
Nah, menurut saya, inilah tips utama dalam menulis karya nonfiksi. Selanjutnya, yang dibutuhkan hanyalah latihan dan penambahan jam terbang.

Ok deh, semoga bermanfaat dan maaf bila tidak berkenan.